Jumat, 26 September 2014

My experience in Darussalam







Tepatnya 1 juli 2014, merupakan awal saya memulai hari di pesantren, tepatnya pesantren biru ranah damai ini. Ketika saya masuk dalam sebuah lingkungan yang sulit dipahami namun bisa di mengerti. Sekejap  bisa terfikir, sekejap bisa ku bayangkan dan kurasakan ada yang aneh namun nyata dalam kehidupan. Yang tadinya saya disebut hanya sebagai siswi saja namun sekarang saya    bisa di namakan dengan sebutan santri, mungkin menurut yang lain hal ini sudah tak mengherankan namun bagiku ini semua hal yang asing. Pengenalan merupakan tahap awal dari sebuah pertemuan, baik pengenalan dengan teman, karakter teman yang lainya maupun juga dengan peraturan yang ada di pesantren Darussalam ini. Pendekatan sebuah tahap selanjutnya yang saya harus jalani ketika pergaulanlah yang mendorong kepada pendekatan tersebut. 


Awal mula proses ini, saya melakukanya dengan teman saya sendiri dimana saya bisa tertawa bersama yang tak pernah saya rasakan pada tahap pengenalan dan pada tahap ini juga saya mulai tahu karakter masing-masing teman saya, dan satu lagi pada tahap ini saya dapat mulai berinteraksi dengan sekolah saya dan juga pengajian saya. Dan pada akhirnya kata “BETAH” pun terlontar dari mulut saya dan sembari saya mengangkat bibir saya (tersenyum) yang menandakan kebahagiaan telah tiba dengan semua kegiatan yang setiap hari saya dan santri lainya jalankan.waktu pun terus berganti dan kini saya pun sdah menginjak kelas 11 dimana kelas sebelas adalah puncak dari kebersamaan dan waktunya mencari pengalaman.Dan kini sayapun sudah terbiasa dengan suasana maupun aktifitas di Darussalam, dan saya juga kini dapat menyadari pengalaman tercipta tidak terlepas dengan namanya suka dan duka yang saya dan santri lainya jalani, dan saya juga harus memanfaatkan waktu agarmenjadi pengalaman yang indahdan bisa di ceritakan kepada generasi selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar